Unngkapan Cinta Ala Santri
Saat itu, aku
isim mufrod, tunggal sendiri saja
seperti
kalimat huruf, sendiri tak bermakna
seperti fi’il
laazim, mencinta tak ada yang dicinta
tak mau
terpuruk dan terdiam, aku harus jadi mubtada’, memulai sesuatu.
menjadi
seorang fa’il, yang berawal dari fi’il.
tapi aku
seperti fi’il mudhoori’ alladzii lam yattashil biaakhirihii syaiun
mencari
sesuatu, tapi tak bertemu sesuatupun di akhir.
Bertemu
denganmu adalah khobar muqoddam, sebuah kabar yang tak disangka.
Aku pun jadi
mubtada’ muakkhor, perintis yang kesiangan.
Aku mulai
dengan sebuah kalam, dari susunan beberapa lafadz
yang mufid,
terkhusus untuk dirimu dengan penuh mak’na.
Dari sini
semua bermula
Aku dan kamu,
bagaikan idhofah
aku mudhof,
kamu mudhof ilaih.
Tak bisa
dipisahkan.
Cintaku
padamu, beri’rob rofa’. Tinggi
Bertanda
dhummah. Bersatu
Cinta kita
bersatu, mencapai derajat yang tinggi.
Saat mengejar
cintamu, aku cuma isim beri’rob nashob. Susah payah
yang bertanda
fathah. Terbuka
Hanya dengan
bersusah payah maka jalan itu kan terbuka.
Setelah
mendapatkan cintamu, tak mau aku seperti isim yang kofdh. Hina dan rendah
Bertanda
Kasroh. Terpecah belah
Jika kita
berpecah belah tak bersatu, rendahlah derajat cinta kita.
Karenanya, kan
kujaga cinta kita, layaknya isim yang beri’rob jazm. Penuh kepastian
Bertanda
dengan sukun. Ketenangan.
Kan kita gapai
cinta yang penuh damai
saat semua
terikat dengan kepastian tanpa ragu-ragu.
oleh:Sayyidah
ifach angelia binti affandi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar